Liputan6.com; 13 Februari 2026
Penulis:
PRI AGUNG RAKHMANTO
Founder & Advisor ReforMiner Institute
Pengajar di Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti
Pasar gas dan LNG global pada tahun 2025 lalu berada dalam fase rebalancing, dari kondisi sebelumnya yang cenderung suplai ketat menjadi relatif lebih seimbang. Total pasokan gas global mencapai sekitar ±4.264 billion cubic meters (bcm), sementara permintaan berada sedikit lebih tinggi di kisaran ±4.286 bcm. Dari sisi pasokan, ketersediaan gas di pasar global menunjukkan peningkatan, terutama yang bersumber dari LNG.
Berdasarkan laporan International Energy Agency, sepanjang tahun 2025, pasokan LNG global tumbuh sekitar 5 persen atau setara ±30 bcm, Amerika Serikat dalam hal ini berperan sebagai kontributor utama yang menyumbang sekitar 60 persen dari tambahan pasokan LNG global. Pada periode 2025, ekspor LNG AS tercatat sebesar ±109 juta ton, meningkat sekitar 25 persen dibandingkan 2024 (±87 juta ton).
Di sisi permintaan, laju pertumbuhan permintaan gas global sepanjang tahun 2025 tercatat berada pada kisaran 1–1,4 persen, lebih rendah dari tahun 2024 yaitu 2,8 persen. Perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya ekonomi global serta volatilitas dan tingginya harga LNG. Sepanjang tahun 2025, harga LNG global tercatat berada pada kisaran USD 9–14 per MMBtu; harga bergerak relatif tinggi pada semester pertama dan cenderung lebih rendah pada semester kedua.
Pasokan – Permintaan
Keseimbangan pasokan–permintaan gas dan LNG global pada 2026 diperkirakan tetap akan berada dalam kondisi relatif ketat namun relatif lebih mencukupi dari sisi pasokan. Berdasarkan data International Energy Agency (2026), pasokan gas global pada 2026 diperkirakan mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan pasokan LNG yang diproyeksikan tumbuh lebih dari 7 persen atau sekitar ±40 bcm, dan merupakan tingkat pertumbuhan tertinggi sejak 2019.
Amerika Serikat diperkirakan akan tetap berperan sebagai kontributor utama dalam pertumbuhan pasokan LNG global pada 2026. Peran tersebut didukung oleh tren peningkatan produksi dry gas domestik, yang pada 2025 tercatat tumbuh sekitar ±4 persen (yoy) dan diproyeksikan masih akan berlanjut pada 2026.
Selain AS, tambahan pasokan LNG global juga berasal dari Kanada dan Qatar, khususnya proyek North Field East Qatar yang dijadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026. Secara global, total pasokan gas dan LNG pada 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 4.378 bcm atau meningkat sekitar 2,7 persen dibandingkan dengan tahun 2025.
Permintaan gas global pada 2026 diperkirakan kembali menguat dengan pertumbuhan sekitar ±2 persen (YoY). Pertumbuhan permintaan terutama didorong oleh konsumsi di Asia Pasifik yang diperkirakan tumbuh lebih dari 4 persen dan berkontribusi sekitar 50 persen terhadap total pertumbuhan permintaan gas global.
Selain itu, Eurasia, Afrika, dan Timur Tengah juga diproyeksikan mengalami pertumbuhan positif masing-masing sekitar 3,5 persen. Sebaliknya, permintaan gas di Amerika Utara diperkirakan relatif stabil, sementara Amerika Tengah dan Selatan diproyeksikan menurun sekitar 1 persen. Di Eropa, permintaan gas diperkirakan turun sekitar 2 persen seiring berlanjutnya percepatan transisi energi dan peningkatan efisiensi energi. Secara agregat, total permintaan gas global pada 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 4.371 bcm.
Kepentingan Pelaku Pasar
Strategi dan kepentingan pelaku pasar menjadi salah satu faktor kunci yang akan mempengaruhi dinamika pasar gas dan LNG global pada 2026. Berbagai data menunjukkan bahwa pelaku utama baik di sisi pasokan (Amerika Serikat dan Timur Tengah), maupun permintaan (Asia dan Eropa) pada dasarnya memiliki kepentingan yang sejalan, yaitu menjaga stabilitas fundamental pasar dan mendorong harga LNG pada level moderat. Kondisi tersebut diperlukan untuk memastikan keberlanjutan produksi gas, kelancaran offtake, serta keterjangkauan LNG di pasar konsumen utama.
Di sisi pasokan, kepentingan Amerika Serikat terindikasi tidak berorientasi pada upaya mendorong harga LNG ke tingkat maksimum, melainkan pada optimalisasi utilisasi fasilitas liquefaction dan keberlanjutan penyerapan feed gas. Hal ini sejalan dengan pemulihan produksi dry gas Amerika Serikat yang kembali menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sekitar 4 persen pada 2025, setelah mengalami kontraksi pada periode 2022–2024.
Pada saat yang sama, investasi Amerika Serikat di sektor hilir tercatat cukup signifikan. Pada 2025, sekitar 80 bcm dari total tambahan kapasitas liquefaction LNG global sebesar ±90 bcm per tahun yang mencapai Final Investment Decision (FID) berasal dari proyek-proyek di Amerika Serikat.
Dari sisi permintaan, pasar gas dan LNG pada 2026 membutuhkan harga yang moderat agar volume perdagangan tetap terjaga. Karakter pasar Asia yang sensitif terhadap harga dan bersifat oportunistik membuat permintaan LNG dapat bergerak sangat fluktuatif. Sebagai contoh, impor LNG China pada semester pertama 2025 dilaporkan menurun sekitar 20 persen.
Penurunan tersebut terutama terjadi pada segmen spot, yang turun hampir 40 persen akibat harga yang tidak kompetitif. Kebutuhan akan harga yang moderat juga relevan bagi pasar Eropa. Meskipun permintaan gas secara struktural diproyeksi menurun, impor LNG tetap dibutuhkan untuk menggantikan pasokan pipa gas Rusia yang akan dikurangi secara bertahap.
Outlook Jangka Pendek
Pada tahun 2026, secara fundamental dalam jangka pendek pasar gas dan LNG global diproyeksikan mulai mengarah pada kondisi pasokan-permintaan yang sudah lebih berimbang namun tetap dengan tingkat ketidakpastian yang tetap tinggi. Pergerakan pasar dan harga gas serta LNG global terutama dipengaruhi oleh tiga faktor utama.
Pertama, dinamika keseimbangan fundamental pasokan–permintaan. Kedua, strategi dan kepentingan pelaku pasar utama, khususnya Amerika Serikat dan Timur Tengah di sisi pasokan, serta Eropa dan Asia sebagai pasar utama. Ketiga, faktor non-fundamental, terutama ketidakpastian geopolitik yang melibatkan peran-politik luar negeri Amerika Serikat dan konflik di kawasan Timur Tengah, serta dinamika hubungan Eropa–Rusia.
Risiko geopolitik dalam hal ini menjadi sumber ketidakpastian yang signifikan. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran dan Israel, berisiko memicu eskalasi regional yang dapat mengganggu keamanan jalur perdagangan LNG. Di sisi lain, dinamika hubungan Eropa–Rusia juga menjadi faktor geopolitik penting seiring berlanjutnya kebijakan phase-out pasokan gas Rusia, yang berpotensi menyisakan potensi gangguan pasokan maupun ketidakpastian kebijakan.
Meskipun risiko-risiko tersebut tidak selalu berdampak langsung pada keseimbangan fundamental pasokan–permintaan global, ekspektasi pasar dalam merespons hal tersebut tetap menjadi faktor yang dapat membuat harga LNG bergerak dalam rentang volatilitas yang relatif tinggi sepanjang 2026.
Berpijak pada hal tersebut, tanpa ada kejadian luar biasa – misalnya perang skala luas yang tidak terkendali, harga LNG global pada 2026 dalam jangka pendek diperkirakan cenderung akan bergerak pada kisaran moderat, yaitu di kisaran USD 10–12 per MMBtu. Rentang volatilitas lebih kecil-rendah berpotensi dapat terjadi karena di sisi suplai secara fundamental relatif memenuhi dari aspek keseimbangan dan kecukupan.
