Friday, March 13, 2026
HomeReforminer di Media2026Ketahanan Energi RI Dinilai Masih Aman Di Tengah Perang Timteng

Ketahanan Energi RI Dinilai Masih Aman Di Tengah Perang Timteng

Rm.id; 12 Maret 2026

RM.id Rakyat Merdeka – Ketahanan pasokan minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia dinilai masih relatif aman meskipun terjadi konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.

Direktur Eksekutif ReforMiner, Komaidi Notonegoro menyatakan, stok operasional dan kemampuan pasok BBM di dalam negeri berpeluang tetap terjaga seperti periode sebelum pecahnya konflik.

“Ketahanan pasokan minyak mentah dan BBM Indonesia kemungkinan masih relatif aman meskipun sedang terjadi perang di Iran dan wilayah Timur Tengah,” kata Komaidi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Menurut dia, jika mencermati neraca impor minyak dan BBM Indonesia, dampak gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz terhadap pasokan energi nasional masih dapat dikelola.

Data tahun 2025 menunjukkan porsi impor minyak mentah Indonesia yang melewati jalur tersebut hanya sekitar 18,13 persen, sementara impor BBM sekitar 14,23 persen. Dengan demikian, sekitar 81,87 persen impor minyak dan 85,77 persen impor BBM Indonesia tidak melalui Selat Hormuz.

Meski demikian, pemerintah tetap perlu mengantisipasi potensi gangguan distribusi dengan menyiapkan alternatif sumber pasokan energi. Seluruh impor minyak mentah Indonesia yang melewati Selat Hormuz berasal dari Arab Saudi, sedangkan impor BBM yang melalui jalur tersebut juga berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain.

ReforMiner menilai terdapat dua skenario untuk meminimalkan risiko gangguan pasokan. Pertama, mengganti sumber impor dengan tidak sementara waktu mengambil pasokan dari negara-negara tersebut. Kedua, tetap mengimpor dari negara yang sama tetapi mengubah rute distribusi agar tidak melalui Selat Hormuz.

Selain itu, Indonesia juga dapat mengalihkan sumber impor minyak ke wilayah lain yang memiliki kapasitas produksi lebih besar dibandingkan kebutuhan domestiknya. Beberapa wilayah yang dinilai memiliki potensi tersebut antara lain kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah dan Selatan, negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS), serta Afrika.

Di sisi lain, jalur distribusi minyak di Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perekonomian global. Konsumen utama minyak yang melalui jalur tersebut antara lain China, India, Jepang, dan Korea Selatan, yang secara kolektif berkontribusi sekitar 27 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) global pada 2026.

Karena itu, berbagai pihak di tingkat global, baik negara produsen maupun konsumen minyak, memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz agar kembali berjalan normal.

ReforMiner menilai penguatan industri hulu minyak dan gas bumi nasional tetap menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan energi Indonesia sekaligus meminimalkan dampak gejolak geopolitik terhadap perekonomian nasional.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments