Wednesday, January 21, 2026
HomeReforminer di MediaArtikel Tahun 2025OPINI: Short-Term Outlook Harga Minyak 2026

OPINI: Short-Term Outlook Harga Minyak 2026

Bisnis.com; 20 Januari 2026
Penulis:
Pri Agung Rakhmanto
Founder and Advisor Referminor Institute, Pengajar di FTKE Universitas Trisakti

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar minyak global pada awal 2026 berada dalam tekanan ketidakpastian yang tinggi. Pada saat tulisan ini dibuat, harga minyak bergerak pada level yang relatif rendah, WTI berada di kisaran USD 58 per barel dan Brent di USD 64 per barel. Level tersebut jauh lebih rendah dibandingkan awal 2025, di mana WTI berada di sekitar USD 78 per barel dan Brent USD 82 per barel. Tekanan terhadap pasar dan harga pada awal tahun 2026 ini terutama dipengaruhi oleh dinamika geopolitik terkait AS – Venezuela, Iran dan Greenland, serta ekspektasi pelaku pasar terhadap potensi terjadinya kelebihan pasokan (oversupply) minyak global.

Dalam jangka pendek, kurang lebih dalam 3 hingga 6 bulan ke depan, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang berpotensi mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Pertama, faktor fundamental yang berkaitan dengan pasokan–permintaan. Kedua, risiko ketidakpastian yang meningkat terutama terkait kondisi geopolitik dan kebijakan luar negeri AS (Trump). Ketiga, dinamika relasi dan interaksi AS dengan OPEC+, khususnya dalam hal ini adalah dengan Arab Saudi dan Rusia dalam mengkompromikan kepentingan terkait (harga) mimyak.

Fundamental Potensi Oversupply

Data US Energy Information Administration (2025) memproyeksikan bahwa pasar minyak global pada tahun 2026 akan berada dalam kondisi kelebihan pasokan (oversupply). Pasokan minyak global diproyeksi akan berada pada kisaran 107,4 juta barel per hari (bph), meningkat dibandingkan tahun 2025 yaitu sebesar 106,2 juta bph. Kenaikan pasokan ini terutama didorong oleh pertumbuhan produksi non-OPEC, yang naik dari 72,5 juta bph pada 2025 menjadi sekitar 73,7 juta bph pada 2026. Kenaikan dari kelompok ini utamanya berasal dari produksi AS, Brasil, Guyana, dan Kanada. Di sisi lain, produksi OPEC+ juga diproyeksi meningkat, dari 33,6 juta bph menjadi sekitar 33,8 juta bph.

Dari sisi permintaan, konsumsi minyak global pada 2026 diperkirakan akan berada pada kisaran 105,2 juta barel per hari, meningkat terbatas dari 103,9 juta bph pada 2025. Sebagian besar pertumbuhan permintaan minyak berasal dari kelompok negara non-OECD di kawasan Asia, terutama China (+300 ribu bph) dan India (+170 ribu bph). Di luar Asia, kawasan Timur Tengah dan Afrika menjadi sumber tambahan pertumbuhan permintaan non-OECD pada 2026, dengan estimasi kenaikan konsumsi masing-masing sekitar 100 ribu bph dan 150 ribu bph.

Proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global yang terbatas pada tahun 2026 terutama karena pasar masih dibayangi oleh risiko perlambatan ekonomi dunia. International Monetary Fund (IMF) memperkirakan bahwa pertumbuhan GDP global akan berada di kisaran 3,1 persen pada 2026, sedikit lebih rendah dibanding 2025 yaitu 3,2. Sementara laporan the United Nations (2026) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2026 hanya akan berada pada kisaran 2,7 persen atau lebih rendah dari tingkat sebelum pandemi. Ekonomi AS diperkirakan tumbuh sekitar 1,5–1,8 persen pada 2026, sedikit melambat dibandingkan tahun 2025 yaitu sekitar 1,8 persen. China juga diproyeksikan mengalami perlambatan, dengan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,4–4,8 persen pada 2026, lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yaitu 5 persen. Ekonomi India diperkirakan tumbuh sekitar 6,6 persen pada 2026, lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yaitu 7,4 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di kawasan Uni Eropa diperkirakan relatif moderat pada kisaran 1,3–1,4 persen (United Nation, 2026).

Ketidakpastian Geopolitik AS-Trump

Pendekatan kebijakan AS-Trump yang cenderung unilateral, transaksional, dan sulit diprediksi—termasuk penerapan tarif resiprokal, intervensi terhadap pemerintahan Venezuela serta eskalasi ketegangan dengan Iran dan terkait Greenland —memberi tekanan lebih besar lagi terhadap ekonomi global yang pada dasarnya memang melambat dan makin meningkatkan risiko di pasar minyak dunia.

Dalam jangka pendek, intervensi Amerika Serikat terhadap Venezuela berpotensi memicu ketidakseimbangan sementara antara pasokan dan permintaan minyak global, terutama melalui perubahan arus perdagangan minyak. Berdasarkan publikasi Reuters (2024), ekspor minyak Venezuela berada di kisaran ±770 ribu barel per hari, di mana China merupakan importir terbesar sekitar 351 ribu bph, disusul oleh Amerika Serikat sekitar 222 ribu bph, Eropa sekitar 75 ribu bph, dan India sekitar 63 ribu barel per hari.

Intervensi AS berpotensi mengganggu arus ekspor minyak Venezuela ke Asia, khususnya ke China, yang selama ini menjadi tujuan utama. Kondisi yang demikian berpotensi mendorong dilakukannya proses penyesuaian ulang terhadap pola aliran pasokan minyak global dan berpotensi mendorong fluktuasi harga minyak pada tingkatan terbatas. Dinamika serupa juga berlaku dalam konteks meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Kawasan Timur Tengah memiliki peran strategis dalam sistem energi global, terutama Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dan dilintasi sekitar 20–30 persen pasokan minyak dunia. Risiko terhadap tekanan terhadap kondisi ekonomi global dan harga minyak akan semakin meningkat apabila pemerintahan Trump melanjutkan manuver lain, seperti memperluas jangkauan penerapan tarif resiprokal, penguatan agenda proteksionisme, serta intervensi (militer) atau langkah geopolitik lanjutan terhadap negara/kawasan strategis lain seperti di Iran dan Greenland.

Dinamika Relasi AS-Opec+

Titik keseimbangan harga minyak global pada 2026 tidak dapat dilepaskan dari dinamika relasi antara AS dan OPEC+, yang masing-masing memiliki kepentingan berbeda namun saling membatasi. Bagi AS, harga minyak yang moderat menjadi penting untuk menjaga stabilitas inflasi domestik, mempertahankan daya beli konsumen, serta memastikan keberlanjutan industri shale oil yang memiliki struktur biaya relatif lebih tinggi dibandingkan lapangan konvensional. Harga minyak yang terlalu rendah berisiko menekan investasi dan produksi shale, sementara harga minyak yang terlalu tinggi akan memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi AS.

Di sisi lain, negara-negara OPEC+ memiliki ketergantungan fiskal yang tinggi terhadap pendapatan dari minyak. Porsi pendapatan minyak terhadap penerimaan negara di sejumlah anggota utama OPEC – seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait — berkisar di atas 50 persen, bahkan mendekati 70 persen pada beberapa periode. Ketergantungan ini mendorong OPEC+ untuk cenderung berupaya mempertahankan harga minyak pada level yang relatif tinggi demi menjaga keseimbangan anggaran dan stabilitas ekonomi domestik.

Dalam konteks tersebut, dari tinjauan ekspektasi dengan tetap mendasarkan pada faktor fundamental, dan dengan catatan tidak terjadi kejadian luar biasa yang menimbulkan shock yang tidak terkendali pada ekonomi dan geopolitik global (konflik militer AS-China/Rusia/Eropa), dalam jangka pendek kisaran harga minyak USD 55–65 per barel dapat dipandang sebagai titik “kompromi” yang relatif moderat dan rasional, Merujuk data Rystad Energy (2024) rentang harga ini masih di atas biaya produksi lapangan konvensional Timur Tengah yang memiliki breakeven sekitar USD 25–30 per barel atau lebih rendah, sekaligus cukup untuk menjaga keekonomian pasokan dari lapangan non-konvensional. Dalam hal ini, shale dan tight oil Amerika Utara saat ini umumnya membutuhkan harga sekitar USD 40–50 per barel, offshore shelf di kisaran USD 35–40 per barel, deepwater sekitar USD 40–45 per barel, sementara oil sands dan heavy oil berada pada kisaran USD 50–60 per barel. Dengan demikian, dalam kondisi pasar minyak yang dibayangi risiko oversupply, pertumbuhan permintaan yang moderat-melambat, dan ketidakpastian geopolitik yang tinggi, dari sudut pandang ekonomi migas global rentang harga tersebut dapat diikatakan relatif menjadi short run equilibrium antara kepentingan produsen-konsumen minyak utama, stabilitas ekonomi dan keberlangsungan industri migas global.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments